FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

April 24, 2007

Forum Diskusi

Filed under: Umum — admin @ 6:12 am

Topik berdasarkan rating tertinggi yang dipilih rekan-rekan forum teologi adalah
HOMOSEKSUALITAS
Bagi rekan-rekan yang ingin nimbrung diskusi mengenai hal ini bisa langsung memberikan komentarnya. Bagi rekan-rekan yang tertarik untuk menulis artikel atau paper terkait dengan topik ini bisa mengirimnya via email ke post@forumteologi.com atau t3ologi@telkom.net

Bila setidaknya ada 10 tulisan yang kami pandang serius dalam mendalami pergumulan seputar topik di atas, maka kami akan menerbitkan tulisan-tulisan ini ke dalam jurnal forumteologi.com edisi perdana. Bagi rekan-rekan yang mengajukan diri ingin menulis bisa membuka kontak dengan kami terlebih dahulu melalui email untuk memberitahukan batas waktu, pendekatan apa yang dipilih, biografi singkat dan sebagainya. Selanjutnya kami alam mengundang Anda untuk bertemu (jika memungkinkan) dan diskusi bersama secara langsung sebelum jurnal diterbitkan sebagai langkah revisi dan editorial.

Semoga Tuhan memberkati.
ADMIN

45 Comments »

  1. homo? atau hetero?
    isi diskusi…
    hehehehehe….jangan ngomongin yang aneh2 ya…begitu sih kata2 dari temen2 yang ngak bisa liat hal yang aneh….. aku mau ngajak temen2, yah, menanggapi kasus yang agak lama, tapi masih menjadi dilema bagi gereja2 di indonesia, masalahnya adalah tentang kaum homo…. akhirnya diskusi ini menjatuhkan pertanyaan, setuju atau tidak tentang adanya kaum homo yang menikah….
    bagi aku, kehidupan ini kita mengenal hetero - bi- homo… nah kita selalu dijejali dan melihat secara nyata bahwa pernikahan hanya untuk kaum hetero (laki2 dan perempuan) saja, yah katakanlah memakai pandangan di ALkitab kita, dari perjanjian lama dan baru, karya rasul paulus juga yang lain2 saja.yang mengatakan bahwa, pernikahan identik dengan lelaki dan perempuan. dan nampaknya moralitas umum juga dilandasi hal yang umum juga, yang diakui dan diyakini oleh agama2 lain juga bahwa pernikahan hetero adalah pernikahan yang wajar dan positif. gereja juga terkadang melihat itu sebagai hal yang harus selalu dilakukan dan harus selalu ditanamkan dalam hati, yah lagi2 melihat tentang kewajaran…counter gereja tentang ini adalah perkataan dari rasul paulus pada jemaat Nya di Roma, yang tertulis pada roma1:27 atau ayat 28??? saya lupa pastinya, yang intinya tidak boleh ada kemesuman di antara laki2 dengan laki2…dan hal ini menjadi salah satu dogma yang kuat dalam gereja…padahal seandainya kita mau menanggapi kritik teksnya dan pendekatan dari konteks dan permasalahan jemaat saat itu, kita bisa saja mendapatkan pandangan yang lain. setuju atau tidak terkadang mempengaruhi pandangan kita tentang BOLEH atau TIDAK BOLEH suatu tindakan tersebut. dan yang perlu kita sadari semuanya, bahw alkitab, surat rasul dan semua yang terdapat didalamnya selalu mengangkat tentang sex behavior….bukan sex oriented..itulah kelemahan yang terdapat dlam pemikiran dan sudut pandang kita,bukan Alkitabnya yang melarang dan menyalahkan, namun kadang kita yang mengambil bahwa Homo itu adalah SALAH dan MELANGGAR KODRAT….
    hmmmmmm…walau saya bukan seorang guy, namun saya lebih senang melihat bahwa semuanya itu kita pikirkan dan tentukan berdasarkan orientasi….
    pernikahan homo…. yah saya lebih senang melihat motivasi mereka menikah, pembentukan keluarga sebagai bentuk persekutuan dengan Allah dalam kehidupan manusia secara bersama, dan sebagai wujud prokreasi (lihat bukan masalah keturunan, walaupun dalam kejadian kita “di suruh” beranak cucu sebanyak bintang dilangit dan pasir dipantai…tapi apa ada yang melaksanakannya dengan sungguh2?..hidup kan bukan untuk beranak pinak saja, tapi kalo ada yang gitu ya silahkan, monggo, nggak dilarang…..hehehehe sori jangan tersinggung )
    banyak dari pernikahan yang hetero sering berantem, KDRT, dan banyak kejadian yang bisa membuat kita bergidik ngeri…….
    jadi beginilah pandangan saya tentang pernikahan homo…..saya setuju dan “melegalkan” hal ini terjadi dalam lingkungan saya….
    lagi2 hetero dan homo atau bi, menjadi salah satu pilihan bagi kita, dan mampukah kita sebagai jemaat atau mungkin pendeta menerima hal ini dengan melihat dari sudut pandang yang lain

    Comment by Dioz — April 26, 2007 @ 10:55 am

  2. di satu sisi, sikap kita yang tegas menolak justru terkadang menyebabkan mereka-mereka yang sesungguhnya homo akhirnya menutupi serapat mungkin. Toh suatu ketika jika tidak ada alasan lagi baginya untuk menutupi, maka ia akan tetap pada keadaannya. Di satu sisi, mereke sebenarnya tidak mau demikian namun di sisi lain karena pertumbuhan hormon yang kurang seimbang membuat hal ini sulit untuk ditekan. Ada yang menerapkan ayat 1 Korintus 6:9. Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, 6:10 pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Ini menarik untuk di diskusikan lebih mendalam. Mengingat sesungguhnya ayat ini pun perlu diteliti lebih dalam. Saya setuju untuk mengangkat topik ini sebagai sumber diskusi

    Ciaouwww

    Comment by Martin — May 15, 2007 @ 9:27 am

  3. “sebuah kisah klasik bagi masa depan”… gimana ya iman kristen bisa terus menjawab tantangan jaman ini? bayangin aja… banyak hal-hal yang terus berkembang maju dan sangat luar biasa mempengaruhi kehidupan manusia..tapi juga banyak banget pola-pola pemikiran yang akhirnya terpental dalam memasuki kehidupan gereja (rohani), padahal pemikiran yang baik dan cukup masuk akal sudah sering di usahakan ada dalam pemikiran yang modern ini, tetapi gereja, pendeta, dan dogma..terkadang sangat kuat memagari semua itu masuk ke dalam gereja.. entah…. saya pernah berfikir bahwa seandainya nanti dunia akhirnya hanya menggunakan satu pemikiran “asal aku berbuat baik pada semua orang” sepertinya TUhan tidak di butuhkan lagi dalam dunia ini, lulusan2 yang sangat pintar dari STII pun terkadang menjadi pagar yang kuat dalam memagari dan memaksa pikiran lama atau paradigma lama terus bercokol dalam dunia yang maju…. entah ya… setelah saya baca buku “apa itu calvinisme”, saya merasa heran dan kaget, kenapa ya.. di eropa justru menjadi negara yang sangat sekular.. bahkan tidak sedikit gereja-gereja yang kosong pada setiap hari minggunya dan banyak pendeta yang undur dari pelayanan mereka… hhhhh…. bingung dan sekaligus miris melihat dunia yang semakin dirasakan bertolak belakang dengan iman, teologi yang katanya menjawab tantangan jaman dengan menjadikan slogannya teologi yang kontekstual pun tidak bisa berbuat banyak dalam melihat kehidupan akhir2 ini…. entah ya…
    sekuler……hmmmm… menarik…hidup tanpa YEsus…hidup tanpa Tuhan…tetapi berbuat baik kepada setiap manusia yang ada di sekitar kita…. “ada yang mau sekuler????” semoga saja ada yang menjawab TIDAK namun memiliki integritas yang holistik…..

    Comment by vengeful spirit — July 10, 2007 @ 1:37 am

  4. hehehhehehe…. HOMO…….. akhirnya mencuat juga. kasus yang real dan gereja menjadi tidak berkutik di buatnya, gereja tidak banyak yang bisa mampu menerima keberadaan “domba2″ itu.. dan akhirnya “domba2 itu” mundur dan hilang dari kehidupan “sekumpulan orang suci dan domba2 suci lainnya” dan tanpa di “cari” lagi, namun ketika ada yang mau mencari, bukan merawat “domba itu” dan memberikan air segar, namun cambuk dan rantai baja di kenakan di domba itu, jangan salahkan domba yang di anggap bermasalah itu dan perkembangan dunia ini….tapi perhatikan..apakah bagi yang merasa normal sudah menjadi “sahabat yesus?”…..btw, ide pemikian di atas menyoroti dengan baik kasus itu, terbuka…hmmm…saya setuju… oriented… bukan behaviour….. dunia… dunia… kompleks… membingungkan tapi ada juga yang berani menantang jaman… i’m in…
    dioz mau nggak jadi pacar ku????? wkwkwkkwkwk….

    Comment by vengeful spirit — July 10, 2007 @ 1:50 am

  5. Tema pilihan siapa nih? Martin Krisanto kah? Jadi terbit? aku mau sumbang tulisan kalo belum terbit.

    Tanggapan: Terima kasih untuk responnya. Tema pilihan diangkat dari komentar terbanyak di forum diskusi sebelumnya.
    Sebagai info, jurnal belum diterbitkan. Kami menunggu masukan karya tulis rekan-rekan sekalian.

    Comment by Pramudya — August 18, 2007 @ 7:49 am

  6. Wauh……… Topik yang sangat Sensitif…
    ISu Homosex dan PErnikahan sesama JEnis,tidak isu baru lagi di dunia Theologi. dalam praktiknya HOMO SEX membingunkan untuk dinilai Kebenarannya/kelayakannya. Isu Homosex membawa kita dalam alur pemikiran paradoksal, yang mana di satu sisi Perilaku Homo Sex benar di salahkan, dan di waktu yang sama problema Homo Sex memaksakan penilai memakluminya… ??? masalahnya HAM harus dipraktikkan juga ketika kita menolak keberadaan kaum HOMO SEX.

    Manusia dalam perspektif Penciptaan adalah manusia yang Ideal, Kasus HOMO sex nyata terjadi dalam kehidupan aktual, yang sekaligus merupakan masalah yang substansial dalam kehidupan umat manusia di seantero jagad. Bagi kebanyakan orang, Termasuk Saya, kaum homoseks masih seperti misteri. Hanya sedikit yang diketahui tentang mereka. Das solemnya HOMO sex merasa bahwa ketergantungannya terhadap sesama jenis merupakan suatu tindakan kasih? dengan mengasihi sesama jenis bberapa Homo sex merasa sudah menjalankan hidup kekristenan….

    Comment by Donie P — August 22, 2007 @ 1:49 am

  7. Dunia menawarkan banyak hal sejak dulu kepada manusia. Tawaran-tawaran kian menarik bagi manusia. Banyak faktor yang sering mengahruskan manusia untuk merubah kaidah dan menyalahi aturan-aturan yang ada demi kebutuhan biologisnya. Kita tidak boleh melihat “kaum aneh” ini sebagai yang negatif, tetapi banyak hal dan kajian dari sudut pandang yang lain juga perlu dipertimbangkan (faktor keluarga, masyarakat, psikologi, dsbnya. Tarik menarik untuk mengatakan benar dan salah terus ada sampai kapanpun. Pengambilan keputusan tentang siapa yang benar dan salah tetap abu-abu (tak bisa hitam atau putih).
    Tanggapan: suatu kehormatan jika Anda membuat artikel teologis mengenai hal ini untuk forum. Tuhan memberkati

    Comment by kukuh purwidhianto — August 24, 2007 @ 9:14 am

  8. lah…. gimana abu2? justru kalo saya mengamati kita hanya bisa abu2 banyak orang yang “merasa salah” justru semakin “bersalah”, bayangkan jika dia ingin sekedar bertanya kepada kita atau justru menjadikan kita sarana (jembatan) untuk berkomunikasi dengan allah… justru abu2 ini yang sangat sadis menurut saya, prionsip yang terus berkembang menurut saya harus terus ada dan hidup, bagi saya abu2 adalkah penyakit orang indonesia, bukan hanya dalam masalah homo saja, saya teringat oleh kata2 majelis jemaat ( mantan ) gki di jawa tengah, dia mengatakan, eh, jangan takut untuk di benci sesama manusia ketika kita menjalankan kebenaran dan bekerja di jalan allah, jalan yang penuh dnegan kasih dan per damaian….

    Comment by dioz — September 5, 2007 @ 4:01 am

  9. dari yang pernah saya baca tapi saya lupa dimana, homosexual alamiah hanya mungkin pada lesbian/perempuan, gay/laki2 lebih karena sesuatu yang mengyangkut psikologis, kalau buat saya homo adalah sesuatu kelebihan manusia yang lain, dibandingkan dengan binatang, karena setau saya ga ada binatang yang homo tuh, setau saya si gitu, soal dilegalkan atau ga, mungkin sama halnya dengan yang lain yang dianggap normal, safety first, ada komitmen atau ga, buat saya si mending dilegalkan biar jelas, status dan posisi juga jadi jelas, dan ga membuat mereka yang katanya sakit ini semakin sakit

    Comment by kartahutama — September 12, 2007 @ 10:04 pm

  10. homoseks?
    siapa yang mau jadi homoseks?
    mungkin,
    jika diberi pilihan kepada kaum homoseks,
    mereka pasti memilih untuk tidak menjadi seorang homoseks.

    lalu bagaimana seharusnya tindakan gereja terhadap kau homoseks?
    menurut saya,
    gereja seharusnya mengubah pola pikir mereka terhadap kaum homoseks.
    banyak gereja-gereja yang secara langsung mematikan langkah para homo seks dengan berbagai pernyataan yang begitu menusuk,
    padahal sesungguhnya mereka memerlukan perhatian.
    lalu dimana kasih yang selama ini kita pamerkan kepada banyak orang?

    perlu kita sadari bahwa mereka adalah domba-domba yang hilang dan tersesat,
    jadi jangan menambah bingung langkah mereka dengan perbuatan-perbuatan yang menurut kita baik

    bagaimana mungkin sesuatu bisa dibilang baik kalau tidak dibandingkan terlebih dahulu dengan yang buruk.
    begitu juga manusia,
    bagaimana seseorang manusia bisa dibilang norma kalau tidak dibandingkan dengan manusia lain yang tidak normal.

    kita harus mengingat perkataan TUHAN YESUS,
    bukan orang sakit yang memerlukan tabib,
    melainkan orang sakit.

    DIA datang bukan untuk orang yang suci,
    tapi untuk orang berosa.
    demikian juga gereja diutus bukan untuk menghakimi,
    melainkan untuk menyadarkan.

    Comment by Bernard Randhy Manting Balatau — September 16, 2007 @ 6:56 pm

  11. nah setelah semuanya melihT SATU hal ini dengan baik…. praktek apa yang bisa di jalankan? saya selaku ORANG yang setuju akan hal ini, terkadang sedikit antipati pada kaum homo, berat banget rasanya nerima seandainya kawan kita, orang di sekitar kita menjadi seorang homo, kadang jika saya perhatikan diri saya sendiri, ketika bertemu mereka… risi setengah mati…… nggak gampang rupanya menerima hal ini, bahkan teolog2 pun kadang kontra dengan hal ini….. saya rsa komitmen akan perbedaan kita dalam persetujuan dalam memandang perbedaan ini harus semakin jelas, saya setuju apa bila gereja hadir untuk mencari yang terhilang, namun semua ini bukan hanya berlandaskan teori saja….
    menanggapi kejelasan saudara kartahutama…. sepertinya dalam situs tertentuy mengatakan bahwa kambing dan lebah bisa melakukan hal yang sama dengan manusia untuk mengadakan “kegiatan homo”….hahahahahaha… aneh istilahnya… namun hal ini bisa menjadi pandangan kita atas penerimaan kepada mereka kaum homo….. dan ini nampaknya juga bisa menjadi bumerang buat kita jika melihat hewan…. kadang hewan itu kita sepele kan… jadi mereka mau berbuat apa saja itu terserah pada mereka……(terkadang penilaian manusia kepada hewan seperti itu) apakah kita sebagai manusia yang melazimkan homo akan juga berpandangan seperti itu? wis lah biar no ae…. terima saja, namun di kucilkan…. hehehhe sekilas hal ini tidak menjadi apa… namun kita perlu lho mem “briefing” komitmen kita kembali….

    Comment by dioz — September 26, 2007 @ 4:58 am

  12. Homo??? Apa salahnya menjadi seorang Homo (Bukan Homoseks) tetapi jika melakukan hubungan sesama jenis secara seks apalagi pakai tongkat….,
    Lha?! itu yang harus diwaspadai Bung! Selain sakkit kan lebih enak juga ditaruh tuh tongkat ke tempat yang layak.

    Comment by Epistemology — October 3, 2007 @ 7:04 am

  13. O ya, apakah kita harus menyalahkan pencipta lagi dengaan masalh ini? Perilaku homo itu adalah penyimpangan. Penyimpangan ini disebabkan oleh “sesuatu” secara genetik di dalam diri seorang homo itu yang tidak normal. Ya…, kalo ada yang kurang, mesti ditambahkan atau kalau kelebihan, mestinya dukurangi. Hanya saja masalahnya adalah, itu tiak mungkin dilakukan. Kecuali menaruh kaum homo pada pada lingkungannya sendiri sebagai komunitas baru dunia ini. Kaum homo dapat saja dianggap tidak normal! Jadi, sebagaimana anda menghindari orang “gila” dan penyimpangan lainnya, maka anggap saja kaum homo adalah seperti itu. Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit…(1 Kor. 6:9).

    Comment by Riwon Alfrey — October 11, 2007 @ 7:37 pm

  14. Bagaimana sikap dengan kaum homoseksual?

    Paling kurang ada 2 sikap Allah terhadap penyimpangan ini:

    (1). Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri”. (Im. 20:13)

    (2). “Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. (1 Kor. 6:9-10)”

    Sola Gratia,
    Alfrey

    Comment by Riwon Alfrey — October 11, 2007 @ 10:39 pm

  15. […] Topik terpilih: Homoseksualitas, bagaimana sikap gereja? Para rekan kontributor adalah setiap penulis yang karyanya telah kami terbitkan dalam situs ini. Kami memberi penghormatan kepada rekan-rekan kontributor forum teologi untuk berpartisipasi dengan mengirimkan karya tulisnya sesuai topik di atas. Harap diberi otobiografi singkat pada setiap karya tulis. Selamat berkarya (admin) more … […]

    Pingback by FORUM TEOLOGI » Forum Diskusi — October 18, 2007 @ 8:29 pm

  16. Kelainan seks seperti ini disebabkan 2 faktor: 1. Genetis (hormonal), 2. Faktor lingkungan.
    Jika disebabkan faktor hormonal (keadaan dimana hormon wanita lebih banyak sehingga cenderung membuat laki-laki menjadi feminin dan tertarik kepada sesama jenis), maka obatnya hanya satu cara: minta agar ahli medis menyeimbangkan kembali kadar hormon yang ada dalam tubuh si homoseks itu melalui oprasi. Atau jika belum ada dokter yang melakukan ini maka bersiaplah untuk menahan nafsu seks sejenis alias tidak melakukan hubungan sesama jenis. Keinginan memang masih ada tetapi tahanlah untuk tidak melakukan.

    Tetapi jika faktor penyebabnya adalah pergaulan buruk (linkungan) maka obatnya hanya satu: Bertobat, kembalilah kepada kodrat.Jika perlu minta didoakan pelepasan supaya “roh homoseks” itu keluar dan lari terbirit-birit. Jika perlu siram aja dengan minyak urapan produk pariadji dari tiberias. Pasti deh di jamin kambuh…eh..sembuh. He…he..

    Comment by Abraham Sitinjak — October 24, 2007 @ 9:02 pm

  17. menannggapi sodara riwon alfrey…. sepertinya ungkapan anda tentang kata “penyimpangan” saya rasa hal ini ada karena dari dahulu kala kita mengenal pernikahan laki2 dan permpuan, dan saya kok kurang setuju ya apa bila mengatakan mereka “menyimpang”…. ibaratnya kopi… saya dulu pernah mendengar sahabat saya mengatakan..”wah kopi itu rasanya ndak enak”, saya menggunakan perumpamaan ini untuk menanggapi “penyimpangan” yang anda katakan, saya saat itu mengatakan kepada sahabat saya, kopi itu bukan tidak enak, tapi tiap kopi punya rasa sendiri2 dan keunikan masing2… karena lidah kita terbiasa minum nescafe, jadi minum kopi tubruk ya “horor”…hehehehehhe…. saya kok kurang setuju ya kalo kita pake referensi alkitab sebagai tameng untuk “menyalahkan” mereka, tafsir apa yang membuat saudara mengklaim bahwa kehidupan kaum homo adalah seperti kehidupan kaum homo yang ada di alkitab?????
    dalam perjanjian lama kita mengenal kemah suci dalam imamat itu snagat kental, apakah tidak bisa di tangkap esensi dari ayat itu, dan dalam perjanjian baru, sangatlah jelas masalah yang di hadapi paulus apa bila kita membaca teks aslinya dalam bahsa yunani tentang homo…… HANYA saja HOMO bukan BANCI.HOMO bukan cabul, homo BUKAN berzinah…. mungkin bisa di jelaskan lagi dalam pemahaman penafsiran yang anda miliki untuk memperjelas ayat itu…. dan masalah sang pencipta sepertinya tidak usah di slahkan dan tidk usah di bawa2, yang terjadi sudh terjadi, banyak kaum homo berdasarkan genetik yang akhirnya juga eksis bertahan hidup, dengan mempunyai istri dan hal ini lah yang membuat saya RISIH dan jengkel kepada kaum HOMO, tapi saya harus menyalahkan siapa?? saya kembali tidak tahu, mungkin karena sikap kita yang anti pati kepada “mereka” membuat mereka jadi seperti itu (saya benci dengan prinsip mereka),
    mereka punya prinsip “setia kepada satu wanita, tapi punya banyak teman laki2″ wah hebat ya, menggunakan perkawinan guna tetap melangsungkan aktifitas sesama jenis mereka, nah dalam tahap ini mungkin seorang homo bisa di katakan berzinah dan cabul.hehehehe…

    Comment by dioz — October 25, 2007 @ 5:59 pm

  18. Salam,

    Kalau istilah “Penyimpangan” perilaku tidak cocok, kita mungkin bisa menyebutnya “Komunitas Baru”. Sudah lengkap khan, sekarang ada banyak Pendeta dan Pastor yang Homoseks juga. Tetapi untuk menyebut kaum Homoseksual adalah kewajaran (normal), saya takut, nanti saya yang normal, ‘Macho’ dan mencintai (bernafsu) dengan gadis-gadis cantik dan seksi gini di bilang menyimpang! Jadi, siapa yang menyimpang? “Homo yang seksnya tidak normal” atau “Homo yang seksnya normal”? Entahlah?

    Masalah sikap “kita”, sebenarnya bukan “Antipati” tetapi “Simpati”. Bahkan ada banyak badan misi yang khusus menangani masalah ini. Homoseksualitas adalah masalah global. Bisa saja perilaku ini terjadi dalam keluarga kita. Baik juga masalah Homoseksualitas ini diangkat di forum dan dikenalkan kepada masyarakat secara transparan, agar semua bersikap prihatin dan berhati-hati.

    Jadi, mulailah mendidik anak-anak laki-laki Anda di rumah secara Tradisional. Seperti yang Ayah saya katakan, berdasarkan Kitab Suci: “Manusia yang normal itu hanya ada dua jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan; keduanya memiliki hasrat sesksual kepada lawan jenisnya.” Di luar kata Ayah saya itu, berarti ada faktor yang salah, sehingga “tidak biasa” bagi sebagian orang, namun tidak disadari oleh “mereka yang melakukannya”

    Demikian,

    Sola Gratia,
    Riwon Alfrey

    Comment by Riwon Alfrey — October 26, 2007 @ 9:56 pm

  19. Salam kenal dari Ibu Annifah ( annifah.smg@pnm.co.id )

    To: peduli-autis
    Subject: Salam Kenal dan mohon sharingnya….
    Assalamu’alaikum. Wr. Wb,
    Salam Sejahtera
    Pertama-tama kami mengucapkan terimakasih atas kesempatan yang diberikan untuk bergabung dalam milis ini. Senang rasanya saya bisa berbagi ataupun bertukar informasi mengenai Autis. Dalam milis ini
    ijinkan saya untuk bercerita tentang saya dan anak saya yang diduga mengidap autis.
    Saya adalah bunda dari 3 orang anak, dan merupakan wanita yang paling cantik dirumah (karena semua anakku cowok). Anak pertama namanya Ifan 9 th, kedua Gilang (kelihatannya memiliki beberapa gejala autis) 4 th dan ketiga Ghaza 2th 3bl. Kami blom bisa men”judge” bahwa Gilang autis, karena saat ini kami masih mengikuti observasi dengan psikolog di Semarang. Sebelumya kami sudah berkonsultasi dengan salah satu doker syaraf di Semarang, tetapi dokter tersebut mengatakan bahwa Gilang tidak termasuk anak autis (karena bisa kontak mata) tetapi disflasia yaitu hanya keterlambatan bicara saja, dan secara rutin Gilang terus meminum obat yang diberikan dari dokter tersebut +/- 2 tahun. Terus terang saya dan suami agak berlega hati begitu dokter mengatakan Gilang tidak Autis. Namun justru karena kelegaan tersebut, sekarang saya jadi sangat menyesal, karena setelah dokter memberikan
    informasi Gilang tidak autis, kami sama sekali tidak berusaha untuk mencari informasi lebih lanjut lagi, singkatnya kami menurut saja apa yang dikatakan dokter. Selain menimum obat yang diberikan (yang
    katanya vitamin otak + penenang) Gilang juga mengikuti terapi wicara dan terapi okupasi, seuai dengan saran dari dokter tsb.
    Dan setelah hampir 2 tahun gilang mengkonsumi obat setiap harinya dan selama 1,5 tahun gilang mengikuti terapi wicara, saya merasakan tidak ada perubahan yang cukup baik. Sampai sekarang diusianya yang hampir 4 tahun, Gilang belum juga bisa ngomong, meskipun 1 katapun !!!!
    Berulangkali setiap kontrol ke dokter syaraf tersebut (1 bulan sekali) kami mengeluhkan perkembangan Gilang, tetapi kami hanya diminta bersabar dan terus mengkonsumsi obat-obat yang diberikan….
    Akhirnya…karena ketidaksabaran kami, saya mencoba berselancar di internet untuk mencari informasi mengenai autis, dan Alhamdullilah saya bertemu dengan situs puterakembara .
    Tidak bisa dibayangkan, betapa bodohnya saya waktu itu karena terlena dengan hasil diagnosa dokter syaraf tersebut sehingga saya tidak melakukan hal-hal yang lain yang bisa lebih mempercepat penyembuhan Gilang. Bayangkan 2 TAHUN !!!! Dan setelah saya mencari informasi lebih banyak mengenai autis (yang terus terang masih sangat minim), semua gejala yang saat ini Gilang alami ada dalam gejala autism. Dan ternyata salah satu faktor autism tidak hanya tidak bisa kontak mata,
    tetapi banyak gejala lainnya. Beberapa gejala yang ada di Gilang yaitu terlambat bicara, tidurnya selalu malam (diatas jam 12 malam), sering menangis bahkan sampai histeris dan berteriak, sering bagun diwaktu malam lalu menangis tanpa sebab, taku terhadap lingkungan yang baru dlsb
    Dari milis ini, ingin rasanya saya mencari informasi lebih lanjut, kemana saya harus berkonsultasi dan mulai dari mana ? Saya juga membaca anak autis harus melakukan diet CFGF, dan melakukan beberapa
    tes laborat. Jika di Semarang ada nggak ? dan berapa kira-kira biayanya karena saya baca juga tes tersebut beberapa blom bisa dilakukan di Indonesia ?
    Mohon kepada bapak/Ibu di milis ini dapat memberikan sharingnya kepada saya, yang terus terang masih sangat awam serta masih minimnya informasi yang kami ketahui tentang autism. Terimakasih
    Bundanya Gilang
    Bunga Rampai

    Comment by annifah — November 3, 2007 @ 11:50 am

  20. tanggapan kepda Riwon Alfrey, sayang sekali anda hanya berpegang kepada prinsip ayah anda….
    dan menanggapi masalah yang lainnya, mungkin kita bisa lebih bijaksana melihat perkembangan jaman, tradisional bukanlah penyelesaian yang baik, justru dengan memandang yang tradisionals secara terus menerus bisa saja membuat kita tidak pernah melihat homo yang menikah, bukan kah homo juga berjenis kelamin sama dengan kita, ada yang homo punya alat kelamin wanita, atau juga punya seperti punya lelaki, homo bukan hanya laki-laki, dan homo tidak memiliki dua jenois kelamin bersamaan. kalo masalah misi saya sangat setuju, seandainya ada orang homo datang dan minta konsultasi, mungkin saya akan menyarankannya terlebih dahulu untuk memikirkannya secara matang dan melihat bahwa masih banyak jalan ,menuju ke pernikahan yang ideal….menurut tradisi, dan kesadaran merekalah akan apa kesulitannya apa bila mereka hidup homo, dan tentunya kita harus mampu dong memberikan gambaran-gambaran umum tentang konsekuensi menjadi homo… bukan menurut alkitrab letter lux, tapi yang di tafsirkan secara bertanggung jawab, tetapi juga menurut role play yang berlaku dimana kita tinggal, dan selanjutnya jika kita sudah memberikan kewajiban kita sebagai seorang konselor yang bertanggung jawab, sepenuhnya pilihan ada di tangan konseli kta untuk memilih dan menentukan jalan hidupnya. apakah ada yang sependapat dengan saya?????

    Comment by dioz — November 7, 2007 @ 1:01 am

  21. salam buat saudaraku2!!!

    untuk calon pemimpin gereja
    marilah kita merenungkan kata-kata Alkitab berikut ini :
    - janganlah ada diantara kamu disebut pemimpin karena hanya satu pemimpinmu?
    - Yesus sudah merobohkan bait suci tapi kenapa kita masih membuatnya ? dan kita sebut lagi rumah Allah (gereja atau masjid)
    - Yesus dalam Alkitab di sebut Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, Yang sudah ada, yang ada, yang akan datang, Mahakuasa.
    - Yesus dalam Alkitab disebut mesias bukan Tuhan dan juga bukan anak Maria.Maryam
    - Siapa yang berkhotbah dalam kitab Mazmur/Zabur
    - Tahu kamu Apa artinya darah perjanjian baru ? ingat kota Niwiwe
    - Yesus tidak pernah lahir dan tidak mati dalam Alkitab tapi yang mati adalah firman Tuhan Allah dalam diri saudaraku ?
    - Siapakah yang makan persembahan berhala ?
    - Rumah Allah yang sebenarnya berhubungan penciptaan manusia pertama saudaraku ?
    - Membahas kitab tidak perlu sekolah tinggi-tinggi ?
    - Bacalah kita wahyu dengan sungguh-sungguh ?
    - Baca dan renungkan pengkhotbah dalam pernjanjian lama?
    - Baca Alquran dengan tujuan mencari kebenaran bukan mencari kesalahan, maka saudara dapat memahami Alkitab ditangan saudaraku ?
    - Sesungguhnya Kiamat sudah sangat dimata orang yang mengenal Tuhan Allah ?
    - Pahami kata-kata ini : Allah, Tuhan, Tuhan Allah (Allah Bapa) ?
    - Kenapa Saudara di mesjid, doanya menyebut Allah, dan menyebut menyebut Tuhan ?

    - Tidak semua orang yang kepadaku Tuhan, Tuhan, yang yang masuk ke dalam kerajaana Surga, kecuali saudaraku yang mati konyol oleh nama Yesus (bukan karena ia mengenal Allah)

    sekian dan trim’s

    Comment by martinus tangnga arinal haq assiddiq — December 7, 2007 @ 2:50 am

  22. Hallo,

    Maaf Dioz,

    Tentang Homo. Homo itu berjenis kelamin teridentifikasi adalah laki-laki. Kalo Lesbian, jenis kelamin teridentifikasi adalah wanita. Tetapi, baik Homo maupun Lesbi, memiliki “perilaku seks” tersendiri [khusus]; oleh sebab itu, disebut dengan istilah seperti tersebut. Homo menikah dengan homo dan lesbi juga demikian. Kesalahan homo atau lesbi bukan pada menikahnya, tetapi pada orientasi seksnya yang menyimpang… Homo [laki-laki], menikah dengan Homo juga. Mendingan kalo Homo menikah dengan perempuan, masih wajar.

    Saya tetap berpegang pada prinsip tradisional yang sehat dan benar, bahwa pernikahan hanya terjadi antara laki-laki dan perempuan. Di luar itu, disebut penyimpangan…. “Masa’ sih pisang makan pisang atau jeruk makan jeruk.”

    Tentang ke konselor, ia hanya alat bantu dan bukan obat.

    Salam

    Comment by Riwon Alfrey — December 7, 2007 @ 7:39 pm

  23. Untuk ibu hanifah, dan orangtua yang mengalami permasalahan autis, saya juga punya pengalaman anak autis hiperaktif.Alhamdulillah anak kami telah sembuh, tanpa menggunakan obat…pijat ataupun bentuk lainnya. Dalam waktu 4 bulan-6 bulan anak kami bisa belajar disekolah umum bahkan Juli 2007 ikut menari di pentas. Silahkan ibu hubungi saya , Harizz di 0274-6520969. Semua info gratis, tidak jual produk..hanya informasi ..

    Comment by haris — January 27, 2008 @ 12:50 am

  24. menurut saya homosex itu tidak salah sepenuhnya juga karena belum tentu menjadi kelainan sex itu adalah keinginan mereka sendiri.
    selain itu kita juga perlu mengetahui bagaimana latar belakang mereka hingga mereka bisa memiliki kelainan seks.
    setahu saya kelainan seks itu bisa dipengaruhi oleh gen, pergaulan dan juga karena materi.
    mungkin kalau mereka melakukan hal itu dengan alasan materi yang mungkin susah bagi saya untuk menerimanya karena menurut saya masih banyak pekerjaan yang lain yang lebih baik yang dapat dilakukan

    Comment by priska — March 10, 2008 @ 10:33 pm

  25. Hello everybody, my name is Damion, and I’m glad to join your conmunity,
    and wish to assit as far as possible.

    Comment by DamionKutaeff — March 22, 2008 @ 1:08 pm

  26. i am gonna show this to my friend, man

    Comment by Joycepn — March 23, 2008 @ 3:10 am

  27. Pertanyaan mendasarnya :
    Homoseksualitas itu sebenarnya “penyakit”/penyimpangan perilaku yang sifatnya psikologis, atau genetik (udah dari sononya), atau apa ?
    Sulit sekali kalo belum2 atau tiba2 di dekati dengan kebenaran kita saja, atau secara teologis-psikologis normalnya bagaimana, apa lagi kalo sudah bicara “hukumnya begini-begitu”.
    Rasanya akan lebih bijaksana kalau pendekatannya adalah mencoba mengerti mereka dulu daripada mem-vonis abnormalitas mereka dalam perspektif “kemormalan” yang kita semua anut, baik dari sudut pandang teologis, psikologis atau logi2 yang lain.
    Kebutuhan, pandangan hidup, nature-nya mereka itu apa sih ?? Kt tidak tahu perilaku mereka itu (yang mungkin dalam perspektif mereka = normal) sebenarnya akibat dari kemauan mereka sendiri, atau akibat dari kesalahan pergaulan(menurut orang yang normal), atau genetik.. atau apa.. Sudahkah ada yang bertanya kepada mereka, apa kebutuhan mereka ?? Diakui eksistensinya, atau justru ada kerinduan menjadi “normal” menurut “orang kebanyakan”, yaitu yang di anggap kodrati, seperti Adam & Hawa ?? Sebagai manusia mereka juga butuh di kasihi (yang harusnya tugas kita yang “selalu hidup dalam terminologi” kasih). Mungkin karena kasih sudah semakin langka di dunia ini, mereka hanya bisa menemukan kasih dari “sesama”nya itu.. dari awal masyarakat lebih aman menjauhi, mengasingkan, menghakimi, terhadap perilaku orang2 yang menurut kita menyimpang itu. Mungkin takut di anggap sejenis… bagaimana sikap kita melihat banci ?? Jijik ?? atau tergerak atas belas kasihan kepada mereka ??? Mengasihi mereka tidak berarti “membenarkan” perilaku mereka. Tapi dengan keperdulian kepada mereka akan memberi kesempatan kepada dia untuk mengalami suatu “pencerahan” daripada celaan, cibiran, pembicaraan, yang membuat mereka semakin merasa ter”aniaya” secara lahir dan batin, sehingga menjadi semakin merapat pada komunitas HOMO tadi, di mana mereka bisa merasa aman, di cintai, tidak di anggap aneh… intinya DITERIMA.
    Saat mereka merasa di terima di lingkungan kita yang kita sebut normal, mungkin kita membuka peluang pada suatu pertobatan !! Daripada belum2 membicarakan dalil yang mengungkapkan alasan mengapa mereka salah, lebih baik memberi peluang agar mereka mencicipi setetes kebenaran. Selanjutnya bagaimana ? ? Apa kita tidak percaya Tuhan punya kuasa mengubahkan ?? Jangan2 gara2 kita kuasa itu urung terjadi !!

    Comment by Edhi Setiawan — April 17, 2008 @ 2:27 am

  28. saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh saudara edhi.. jujur saja, setelah mata saya juga terbuka dengan hal ini, saya banyak sekali mendapati komunitas itu ada dan semakin nyata membutuhkan uluran tangan kita utuk membantu dan “menangani kasus” mereka, jujur saja, sekarang saya mendapat satu “pasien” (saya sekedar share saya harapdari sini saya bisa mendapat bayak masukan saran dan ide untuk bagaimana variasi menangani kasus tersebut)yang intens berhubugan dengan saya untuk “mencari” kekuatan dan mendukung mereka dalam pertobatan mereka, dan ketika saya di ceritai oleh mereka tentang kebiasaan mereka dan proses seksual, saya merasa ada banyak hal yang berbeda dari motivasi mereka melakukan hubungan itu…. rasa cinta dengan keinginan seksual adalah dua sisi yang berbeda menurut saya, jujur saja saya ngeri dan risih sekali mendengarnya.. dan yang sya soroti adalah ketika dia melakukan hubungan dengan pria yang sudah punya istri… wah pikir saya kurang ajar sekali… setia pada satu wanita namun “bermain” dengan 1000 pria…

    Comment by dioz — April 29, 2008 @ 8:46 pm

  29. diozz…menurutku homoseksual itu memang bukan perlakuan seksual yang wajar…mereka punya “fantasi” dan “sensasi” tersendiri dalam hubungan seks…saya setuju kalau kaum homoseksual itu tidak untuk dihakimi tetapi untuk didampingi. banyak buku yang berbicara tentang homoseksual. suatu kebanggaan kalau kita dapat mendampingi kaum homo-bi-lesbi, ingat tehnik-tehnik pastoral dalam mendampingi klien. semoga berhasil dalam menyadarkan kaum homo yang dioz dampingi..

    o…iya..saya punya satu cerita tetang kaum lesbi, belum lama ini ada seorang “mbak” yang cerita ke saya kalau dia bekas lesbi. dia bisa sembuh karena pacarnya yang dulu yang telah menyembuhkannya. tetapi cara itu bukan cara yang wajar, setiap kali pacarnya minta untuk berhubungan badan, “mbak” itu g mau dan akhirnya pacarnya memakai kekerasan dengan memukul hingga dia mau melayani dan kekerasab itu dipakai hanya untuk mendapatkan kepuasan seksualnya. kekerasan memang tidak baik, tetapi kenyataannya itu yang menyembuhkan dan akhirnya “mbak” itu sekarang sudah punya suami. tetapi kesembuhan itu bukan sembuh total. dia menikah hanya karena suaminya kaya dan bukan berdasarkan cinta. dan satu hal lagi untuk tetap menjaga hubungan suami-istrinya, “mbak” itu memakai susuk. menurut teman-teman bagaimana kalau kita menghadapi kasus yang seperti ini???

    Comment by christin — May 5, 2008 @ 7:25 pm

  30. to Christin :

    Saya bukan orang yang ngerti pastoral ya, tapi kalau mencermati kasus si mbak ini, pertanyaannya apa yang di sebut dengan “sembuh” ? Apakah setelah mengalami kekerasan fisik si mbak jadi kembali ke kodratnya untuk tertarik pada pria, dan tidak lagi meminati hubungan sesama jenis ? Apakah karena menikah si mbak ini kemudian menyatakan dirinya sembuh ? Bagaimana kalau dia malah jadi biseks ?

    Hukumnya kok malah pakai logika matematika ya..??, - X - = + :)

    Apalagi si mbak itu pake susuk segala. Artinya, dia memiliki kekuatiran yang tinggi sewaktu-waktu di tinggal suami, dan seolah-olah suaminya itu kok menikah tapi orientasinya cuman seks doang ?? Kenapa takut tidak cantik lagi kalau pernikahannya di landasi oleh cinta ?

    Jadi menurut saya persoalan si mbak ini bukannya selesai, tapi semakin ruwet, karena dia lesbi, pernah mengalami kekerasan fisik (kasarnya : di perkosa pacarnya berkali-laki), akhirnya menikah tapi tidak di landasi oleh cinta, plusnya cuman ekonominya saja yang meningkat, tapi jauh di dalam hatinya, saya yakin dia sangat menderita.

    Jadi, si mbak ini sangat membutuhkan kasih sayang. Dia butuh pendampingan yang membuatnya lebih percaya diri, menerima diri apa adanya (tidak menilai rendah/hina dirinya sendiri), mau mendekat kepada Tuhan karena Tuhan itu mengasihi dia, dan karena keliatannya ada keingingan berubah (= sembuh, seperti istilah si mbak itu sendiri),khusus untuk masalah orientasi seksualnya bisa di bantu dengan terapi oleh psikiater/psikolog saja, karena ada banyak luka batin yang mesti di sembuhkan, jadi penangannya mesti jangka panjang.

    Comment by Edhi Setiawan — May 7, 2008 @ 12:56 am

  31. kayaknya musti jelas deh ya masalah antara kaum homo, bi, lesbi dengan homoseksual…oya kawan2, teman saya yang bermasalah itu bercerita, aku sembuh karena Tuhan, ahhh… mungkin saya salah jka membeberkan masalah nya di sini, inti nya kadang orang yang dianggap sakit ini, mengatakan dirinya sembuh karena Tuhan, namun sebenarnya dia berubah karena berusaha mncintai orang lain, dan ketika cintanya mulai di tolak orang lain dia mulai lagi mencari perhatian kemana-mana lagi dan dia anggap dalam diri pacar nya (laki-laki) itu terdapat perhatian yang memang baik untuknya, dan meskipun dia mengatakan sudah sembuh, namun ketika di t4 yang sepi pacar nya minta lagi.. dia mau mlayani… nah inilah yang saya takutkan… “sembuh” ini harus bennr2 di jelaskan…

    Comment by dioz — May 11, 2008 @ 9:13 am

  32. Ini ada situsnya gay ala Indo, mungkin bisa mencari info tentang mereka, di www.gessang.org/index.php

    Comment by Edhi Setiawan — May 15, 2008 @ 6:37 pm

  33. Salam… Saya mengirimkan tulisan saya ttg homoseksualitas melalui email t3ologi@telkom.net.
    Semoga diterima oleh admin dan berhubungan dengan tema yg diangkat.
    Terima kasih.

    Salam

    Comment by Gina — May 17, 2008 @ 4:47 am

  34. tapi………jujur saya katakan di dunia ini tidak ada yang ingin di lahir kan cacat baik lahir maupun bathin semua nya mengiginkan normal seperti adanya namun setiap manusia memiliki genetik homo sex hanya tinggal kadar nya saja sebesar apa presentasi itu yang ada dalam dirinya. namun naluri itu timbul dan timbul ber ulang kali ku coba namun selalu tak kuasa ku membendung perasaan yang ada di hati ini. jadi jangan lah memponis dengan begitu gampang kepada kaum homo

    Comment by Andy — June 4, 2008 @ 7:04 am

  35. mas andy
    anda ini mewakili kaum homo atau bukan? maksud saya apakah anda dalam pergumulan serupa dengan fenomena yang sedang kita diskusikan?
    kalo iya :
    pertanyaan
    1. apakah anda merasa diri tidak sempurna atau cacat (seperti yg anda tuliskan diatas)?
    2. sejak kapan anda mengetahuinya?
    3. jika sudah menyadari nya, langkah apa yang anda sudah lakukan untuk membuatnya tidak cacat kembali

    saya justru sangat senang dengan apa yang mas andy tuliskan, hanya saja jika mas andy menjadi bagian dari fenomena itu, ya hal seperti inilah yang akan di terima oleh diri mas andy dan reka-rekan senasib… ini jika mas andy mau menyadari secara realita nya akan demikian, kita tidak bisa menyalah kan etika atau norma sosial yang menyalahkan ke cacatan tersebut, hanya saja di sini kita juga sedang membahas untuk bagaimana memanusiakan manusia, atau bahasa jowo ne “nguwongke wong” dengan dasar kecacatan tersebut
    alangkah baiknya jika mas andy merupakan bagian dari fenomena tersebut memiliki alasan-alasan yang bisa membuat kecacatan tersebut bisa diterima masyarakat banyak dan bisa di mengerti dan di pahami, bukan hanya sekedar di maklumi saja keberadaan mas dan komunitas cacat itu(cacat=saya memakai bahasa mas andy)
    dan jika mas andy bukan bagian dari mereka, apakah mas andy bisa mendistribusikan alasan-alasan apa saja yag bisa akhirnya memperkuat keberadaan mereka?
    alsan etis oke, alasan yang logis juga oke, dan jika kita berbicara dalam scope gereja, mungkin mas andy bisa memberikan alasan atau tulisan yang memasuki dimensi teologis
    atas jawabannya saya mengucapkan terimakasih

    Comment by dioz — June 17, 2008 @ 7:51 pm

  36. kayaknya dah nggak menarik lagi ya? atau pada anggap sesat?
    ndak lah ya… cooling down dolo
    tetep ada 2kubu g mslh
    yg jls kita sm2 bljr gmn menyikapi 1 hal ga harus dgn betul atau salah dengan meng judge mereka dosa atau ndak dihadapan Tuhan
    mmg masih ad yg anggap homo itu fenomena yg wajar manusiawi
    ada jg yg anggap TETEP GA BOLEH
    kira nya diskusi yg sgt menarik ini bisa membuka wawasan kita nambah ilmu
    buat aku pribadi jangan hanya percaya pada kebenaran tunggal versi 1 manusia hidup bersama tuhan adlh hidup yg terus belajar bersama dgn KASIHNYA

    Comment by dioz — July 15, 2008 @ 10:32 am

  37. He…he… homo? Saya kurang tertarik untuk membicarakannya,
    karena ungkapan ini “Homoseksual” harusnya sudah tidak ada lagi di zaman sekarang. “Guy”, sebelumnya bermakna
    “riang gembira”, tapi sekarang maknanya telah diselewengkan. Saya tidak tahu kenapa ini semua harus terjadi.
    Alkitab menyatakan bahwa setiap suami atau istri yang bercerai tidak boleh menikh lagi karena itu akan dianggap
    berzinah dan itu adalah perbuatan dosa. Lalu kemana mereka jika perceraian telah terjadi?, tentu saja mereka akan ‘mendatangi’ jenisnya sendiri, karena apa? karena tidak ada penjelasan yang dtail untuk hal ‘itu’. paddahal, sebagaimana yang ki9ta tahu bahwasanya wanita lebih banyak daripada lelaki, berdasarkan hasil statistik. England 4 juta, Germany 5 juta, Soviet Russia 7 juta, dll. Sebagai contoh, kita ambil saja Amerika karena negara ini dianggap negara yang berkedudukan tinggi. Tapi masalah untuk hal-hal yang seperti ini, untuk Amerika sangatlah kompleks. Sekitar 7,8 juta wanita di Amerika lebih banyak daripada pria. 25% dari prianya adalah Guy, kenapa? Jika setiap pria di sana menikah,
    bagaimana dengan 7.800.000 wanita yang tidak mendapat bagian suami? Menurut saya, untuk tingkat hormon yang tinggi, mereka berkemungkinan untuk ‘mendatangi’ sesama jenis (lesbian). Apa solusi untuk hal ini di dalam kitab Tuhan?

    Comment by Mr. BQ — July 25, 2008 @ 9:47 pm

  38. untuk Mr. BQ, dah baca dari ataskah???

    Comment by dioz — July 26, 2008 @ 12:47 am

  39. BTW sudah setahun kok topiknya tidak berubah sih ?

    Comment by Edhi Setiawan — August 11, 2008 @ 12:11 am

  40. mohon maaf, kami ada masalah teknis, sehingga membuat topik-topik lain belum dapat di suguhkan. trimakasih Tuhan memberkati

    Comment by dioz — August 30, 2008 @ 10:59 pm

  41. Untuk Saudara Obay Zaklana Furqon,
    Anda Kelihatan sekali bodohnya,
    Baca lebih teliti lagi tentang kisah nabi Luth , Niscaya komentar seperti itu tdk terjadi lagi.
    Jangan-jangan anda sendiri seorang Homosek yang Homophobia.
    Wah Homosek seperti ini yang susah diajak diskusi.
    Semoga komentar anda ke depan bisa menjadi pencerahan kepada semua umat.
    Amin

    Comment by Damai — September 3, 2008 @ 10:35 pm

  42. Persoalan homoseks memang menjadi sebuah kontradiksi yang kuat di beberapa kalangan. Akibatnya terjadi perdebatan yang sampai saat ini menjadi “keresahan” di dunia teologi. Kalau kita lihat dari sisi awal penciptaan, Allah menciptakan segala sesuatunya menurut konsep “KESEIMBANGAN”. Misal: terang dan gelap, matahari dan bulan, pria dan wanita, dll. (lih. kitab Kejadian). Sedangkan posisi kaum homoseks tidak menjadi tempat penting dalam proses penciptaan. Saya berpikir, di manakah keberadaan mereka? Apakah mereka bukan ciptaan Allah? Ternyata mereka sesungguhnya juga berada dalam proses penciptaan. Permasalahannya bukan mereka dengan keberadaan mereka menjadi terbuang, tetapi justru keberadaan mereka yang kita hargai. Penolakan keberadaan mereka justru akan menjadikan sebuah “tekanan mental” bagi kaum homoseks, bukan mau mengembalikan mereka pada kodrat “KESEIMBANGAN” yang terjadi dalam penciptaan. Mudahan diskusi ini membuahkan sebuah konstruksi pemikiran yang baru terhadap kaum homoseks.

    Comment by Aldy — September 10, 2008 @ 1:58 am

  43. compass forever viagra convenience lifeically fleetingly

    Comment by FagoHeendamog — September 10, 2008 @ 3:51 pm

  44. fettle endlessly viagra every now fleetingly

    Comment by FagoHeendamog — September 11, 2008 @ 2:25 am

  45. Homosex (gay dan lesbi) dikonstruksi oleh faktor sosial dan lingkungannya.
    setiap indiviu yg lahir mempunyai dua kecenderungan maskulin dan feminin yg dikendalikan oleh hormonal. selanjutnya dalam perkembangannya mana lebih dominan
    akan ditentukan dalam pergaulan lingkungan sosialnya…

    http://sabdalangit.wordpress.com
    membangun spiritualism bumi nusantara; menjadi bangsa yg berbudi luhur
    kejawen, guru sejati, sedulur papat, ratu adil

    Comment by sabdalangit — November 3, 2008 @ 12:10 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress